Praktisi spiritual Probo Trishna melakukan proses penyempurnaan Khotam Sulaiman di kawasan Alas Roban, Jawa Tengah, pada malam hari, dalam sebuah ritual yang berlangsung intens dan penuh pengalaman non-fisik.
Proses tersebut dilakukan secara mandiri karena Probo terpisah jalur dari rekannya, Mbah Wongso, yang sedang menempuh jalur lain.
Dalam tayangan Syiar Malam yang ia lakukan, Probo menjelaskan bahwa kedatangannya ke Alas Roban bertujuan menyelesaikan tahap akhir penyempurnaan Khotam Sulaiman.
Khotam Sulaiman tersebut merupakan sebuah cincin berrajah yang menurut tradisi spiritual Nusantara memerlukan bahan khusus, bacaan tertentu, serta penyatuan antara batu dan cincin yang dianggap sebagai amanah.
“Saya membawa beberapa cincin untuk disempurnakan. Tidak banyak, sekitar dua puluh lebih,” ujar Probo.
Ia menambahkan bahwa rajah yang digunakan merupakan versi dari Kitab Mamba’ul Hikmah, sementara bahan cincin dibuat khusus dengan campuran tungsten dan timah, sesuai persyaratan pembuatan Khotam Sulaiman.
Warna emas pada cincin tersebut juga diproses secara chrome agar menyerupai desain historisnya.
Sebelum memulai prosesi, Probo terlebih dahulu melantunkan doa dan basmalah berulang kali sebagai bentuk permohonan perlindungan.
Ia juga menggambar sakal kecil sebagai bagian dari tahapan hisar, yaitu pagar spiritual sebelum ritual dilanjutkan.
Dalam doanya, Probo memohon agar Khotam Sulaiman yang tengah disempurnakan dapat membawa ketajaman batin, kewibawaan, serta membuka pintu-pintu hikmah bagi siapa pun yang kelak memegangnya.
Ia juga berharap agar cincin tersebut benar-benar menyatu dengan batu Khotam Sulaiman yang ia bawa.
Pada saat prosesi berlangsung, Probo mengaku merasakan kehadiran energi tak kasatmata. Ia berulang kali mengucapkan takbir setelah merasakan pergerakan di sekelilingnya.
Dalam rekamannya, terdengar sebuah suara yang oleh Probo diyakini sebagai sosok malaikat penjaga.
Suara tersebut menyampaikan pesan tentang proses penyucian, pembersihan batin, serta makna penyatuan antara batu dan cincin Khotam Sulaiman.
Menurut pesan tersebut, penyempurnaan cincin bukan hanya sekadar menggabungkan dua benda, tetapi juga menyelaraskan ruh hikmah dan amanah yang sudah ditetapkan dalam garis takdir.
“Seorang penjaga amanah tidak boleh membawa luka yang belum sembuh atau bayang-bayang gelap,” demikian sebagian pesan yang diterima Probo.
Suara tersebut juga menegaskan bahwa pusaka tidak memuliakan manusia; justru manusialah yang memuliakan pusaka melalui akhlak dan ketulusan.
Fenomena cahaya terang juga disebut tampak pada momen tertentu. Probo menggambarkan cahaya tersebut “sangat silau, seperti siang hari.”
Setelah penyempurnaan dilakukan, Probo mengaku melihat sebuah “gerbang gaib” di hadapannya.
Tak lama kemudian, ia menyatakan bertemu dengan sosok-sosok makhluk yang mengaku berasal dari Kerajaan Ajar Raksa.
Kendati demikian, Probo menegaskan bahwa dirinya tetap manusia biasa dan menolak segala bentuk pengabdian dari makhluk tersebut.
“Jika kalian ingin mengabdi kepada saya, saya tidak mau. Pengabdian hanya kepada Allah,” ujarnya dalam dialog yang terekam dalam unggahan kanal YouTube Syiar Malam.
Ia kemudian meminta para makhluk itu kembali dan mengizinkannya melanjutkan perjalanan spiritualnya.
Probo menutup siarannya dengan rasa syukur mendalam. Meski menyebut peristiwa ini sebagai “sandungan” atau ujian, ia menegaskan bahwa dirinya tidak ingin terbawa oleh godaan atau gangguan yang muncul selama proses berlangsung.
Pada akhir ritual, Probo menyampaikan bahwa pengalaman tersebut merupakan bagian dari penyucian diri sebelum menerima amanah yang lebih berat, termasuk amanah terkait Khotam Sulaiman yang ia sempurnakan malam itu.
“Saya bahagia sekali malam ini,” ujarnya menutup perjalanan spiritualnya di Alas Roban.



